Kelebihan Mengamalkan Zikir Pagi Petang

Kelebihan mengamalkan zikir pagi dan petang

1. Menjadikan sesorang itu tidak sibuk dengan dosa lisan dan perkataan yang tidak bermanfaat.

2.Orang yang berzikir mengingati Allah, maka Allah akan mengingatinya.(Al Baqarah:152)

3. Zikir dapat menenangkan hati dan jiwa serta menghilangkan kesedihan dan kekecewaan. Dengan berzikir juga, bisa mencegah dan penawar seseorang daripada stres.

4. Zikir akan memantapkan akidah sesorang,mengingat banyaknya lafaz-lafaz zikir pagi petang yang berisi pengesaan Allah.Yang membuat tauhid seseorang hamba semakin kukuh di setiap pagi dan petangnya. Dengan tauhid inilah, akan hilang segala perkara yang ditakutkan dan dikhuatirkan oleh seseorang hamba.

5. Zikir pagi petang akan menguatkan seseorang dan menjadikannya sabar dalam menghadapi ujian kehidupan.
Rujukan surah Thaha:130 dan surah Qaaf:39-40

6.Zikir boleh mnjadi penjafa bagi seseorang muslim. betapa banyak keburukan yang pada bila-bila masa boleh menimpa sseorang muslim, baik gangguan dari yang zahir mahupun dari yang tidak terzahir, seperti gangguan syaitan dan hasadnya orang-orang yang hasad.

Jangan ujub dengan amal

◾ JANGAN UJUB DENGAN AMAL ◾

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata :
Jika Allah membukakan untkmu pintu shalat malam, maka janganlah engkau memandang orang yang tidur dengan pandangan yang merendahkan…

Jika Allah membukakan untkmu pintu puasa, maka janganlah engkau memandang orang yang tidak berpuasa dengan pandangan menghinakan…

Jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, maka janganlah engkau memandang orang yang tidak berjihad dengan pandangan meremehkan…

Bisa saja orang yang tidur, yng tidak sedang berpuasa dan yang tidak pula berjihad lebih dekat kepada Allah ketimbang dirimu…

Sungguh engkau terlelap tidur semalaman dan di pagi harinya engkau menyesal maka itu lebih baik daripada engkau shalat qiyamul lail smalaman suntuk, namun di pagi harinya engkau merasa takjub dan bangga diri (ujub). Karena orang yang merasa bangga dengan amalnya tidak akan pernah naik (diterima) amalnya” (Madaarijus Saalikin 1/177).

✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar

Istighfar dari Istighfar

◾ …ISTIGHFAR DARI ISTIGHFAR… ◾

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
“……..Dan Allah tidaklah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih senantiasa) memohon ampunan” (QS. Al-Anfal [8]: 33)

Manusia pastilah pernah berbuat dosa, tetapi Allah telah menjanjikan bahwa Dia tidak akan menurunkan hukuman atau musibah apabila mereka senantiasa beristighfar kepada-Nya.

Lalu kenapakah masih datang juga musibah atau hukuman padahal bisa jadi mereka itu sudah beristighfar dari dosa-dosa ? Karena istighfar mereka tidak benar dan mereka pun wajib beristighfar dari istighfarnya.

Sesungguhnya seseorang yang beristighfar tapi tdk juga meninggalkan dosa & maksiat, mk istighfarnya itu merupakan sebuah dosa yang butuh kepada istighfar lagi agar dia pun tidak dianggap sebagai para pendusta.

Fudhail bin Iyadh رحمه الله berkata :
“Istighfar tapi tetap tidak meninggalkan dosa adalah taubatnya para pendusta” (Al-Adzkar hal 492 oleh Imam an-Nawawi)

Yahya bin Mu’adz رحمه الله berkata :
“Betapa banyaknya orang yang beristighfar tapi dimurkai (Allah). Dan betapa banyaknya orang yang diam tetapi dia dirahmati (Allah)”. Kemudian beliau pun menjelaskan : “Orang ini telah beristighfar (dengan lisannya), akan tetapi hatinya diliputi kefajiran atau dosa. Adapun orang itu diam, namun hatinya pun senantiasa berdzikir (selalu ingat kepada Allah)” (Mukhtashor Shifatus Shofwah I/411)

✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar

Cinta harta

[Terlampau cintakan harta: Tadabbur Ayat 8 Surah al-‘Adiyat]
.
.
Perkataan الخَيرِ bermaksud ‘kebaikan’, tetapi dalam ayat ke-8 Surah al-‘Adiyat ini kenapa Allah menegur orang yang menyukai kepada ‘kebaikan’ pula? Dan kenapa pula para mufassir dan terjemahan kepada perkataan ini bermaksud ‘harta’, ‘kemewahan’ dan yang berkaitan dengannya? Bukankah kekayaan juga boleh digunakan untuk kebaikan juga? Bukankah harta itu diperlukan juga oleh manusia dan boleh digunakan untuk kebaikan?
.
Untuk menjawabnya, kita kena faham bahawa Allah sebenarnya ‘menterjemahkan’ kepercayaan golongan yang ingkar. Golongan yang ingkar ini merasakan harta dan kekayaan itu adalah ‘kebaikan’ buat mereka dan tidak ada yang lebih baik daripada harta kekayaan yang mereka miliki. Allah sebenarnya mengejek dan menyindir tanggapan golongan ini terhadap harta mereka.
.
Mereka hanya melihat ‘kebaikan’ dalam ‘kesenangan dan kekayaan’ sahaja. Dan kerana hendak mendapatkan kemewahan dan harta itu, mereka sanggup buat apa-apa sahaja – sampai sanggup merampas hak orang lain, sanggup menipu, sanggup mencuri dan sebagainya.
.
.
Al-Quran itu sentiasa relevan sehingga Hari Kiamat. Setiap mesej dan pesanan yang ada dalam al-Quran bukan hanya untuk golongan pada suatu zaman sahaja. Maka, kita perlu refleksi semula diri kita, adakah kita juga pernah atau sedang bersikap dengan sikap golongan yang ingkar ini, yang menganggap harta kekayaan itulah segala-galanya, tiada yang lebih penting daripada harta kekayaan, tiada yang lebih baik daripadanya?
.
.
Mencari rezeki dan harta itu harus, namun, jangan sampai kita ‘jatuh cinta’ kepada harta kekayaan dunia sehingga menguasai diri kita kerana ia akan menjerumuskan kita ke dalam lembah kekufuran.
.
Alirkan apa yang kita miliki ke jalan yang baik dan memberi kebaikan kepada kita di dunia dan akhirat.
.
Credit:https://www.facebook.com/432946623753927/posts/1005410879840829/

#tadabburcentre
#tadabburalquran
#AlQuranUntukSemua

MUSIBAH ITU NIKMAT??

Imam Abu Haazim رحمه الله berkata :
“Setiap kenikmatan yng tidak juga digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka itu adalah musibah” (Jaami’ul Uluum wal Hikam II/82 dan ‘Uddatush Shobirin hal 159)

Musibah jenis ini tidak ada pahalanya, maka cobalah evaluasi apa yang dilakukan selama ini, karena ternyata “jenis hukuman itu bukan hanya dalam bentuk musibah banjir dll, tetapi juga bisa dalam bentuk kenikmatan”

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, niscaya Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka telah bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa” (QS. Al-An’aam [6]: 44)

Maka Imam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata :

مُصيبةٌ تُقبِلُ بك على الله خيرٌ لك من نعمةٍ تُنسِيك ذكرَ الله

“Musibah yang membuatmu kembali kepada Allah lebih baik dari pada kenikmatan yang membuatmu lupa kepada Allah” (Jaami’ul Masaa-il 387/9)

✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar

HUKUMAN ALLAH DI DUNIA

“Dan pasti Kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yng dekat (di dunia) sebelum adzab yang lebih besar (nanti di akhirat), agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. As-Sajdah [32]: 21)

“Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Rum [30]: 41)

Di antara hukuman yng akan Allah timpakan kepada para hamba-Nya yang selalu berbuat dosa selama di dunia yaitu :

(01). Hatinya menjadi keras
(02). Sempit/sesaknya dada
(03). Susah mendapatkan ilmu
(04). Lupa akan dirinya sendiri
(05). Terhapusnya nikmat
(06). Hilangnya rasa aman
(07). Kehinaan dan kerendahan
(08). Keburukan/aibnya terungkap
(09). Dibiarkan syaitan mengganggunya
(10). Menyebarnya wabah baru
(11). Mendapatkan sanksi syariat
(12). Doanya tidak akan dikabulkan
(13). Dibiarkan melakukan dosa berikutnya
(14). Diturunkannya siksa atau musibah
(15). Kekalahan dalam peperangan

✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar

Bahayanya berkata”seandainya”

Ucapan ”Seandainya” Ketika Mendapati Musibah

Dari Abu Hurairah ra bahwa RasuluIlah SAW. bersabda, ”Mukmin yang kuat Iebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada Mukmin yang lemah, namun keduanya memiliki kebaikan. Berlombalah untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu. Mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah.

Jika engkau terkena sesuatu musibah, jangan berkata ‘Seandainya aku mengerjakan begini, tentu akan menjadi begini dan begitu’. Tetapi katakanlah,’ ini adalah takdir Allah. Dan siapa saja yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan apa saja yang dikehendaki-Nya pasti terjadi’. Karena sesungguhnya ucapan ’seandainya’ membuka pintu masuknya godaan setan.”
(HR. Imam Muslim).

Ucapan ”seandainya” hanya akan menambah kerumitan yang dihadapi. Kita bisa ribut dan saling menyalahkan. Apapun kejadian yang tidak diingini harus menerimanya ucapan,”ini adalah takdir-Nya”.

Ya, kita harus menerimanya dengan ridha karena tidak menerima pun tetap terjadi. Umpamanya sebuah genteng Jatuh dan mengenai jidat. Kita tidak bisa mengeIuh, “Saya tidak terima”. Bukankah tanda terimanya sudah Jelas, yaitu benjol atau luka di kepala yang bisa dilihat orang-orang. Begitu dengan tangan yang melepuh tadi, dan Iain-Iain. Itu sudah takdir Allah Ta’ala. Jalani semuanya tanpa kata “seandainya”.

Kemudian, jangan berhenti hanya pada menerima saja. Seperti pepatah“nasi sudah jadi bubur”, kita memang harus menerima dan ridha terhadap bubur tersebut.Tetapi bukan berarti buburnya mesti dibuang. Carilah bahan dan bumbu Iainnya sehingga menjadi bubur ayam spesial.

Begitu pula dengan, misalnya, mobil penyok. Kita tidak perlu meributkan bagian yang penyok itu. Lihat dan syukurilah bagian yang masih bagus sambil memperbaiki yang rusak di bengkel. Boleh jadi, inilah cara Allah untuk memberikan rezeki kepada tukang bengkel. Ambillah pelajaran atau hikmah dari setiap kejadian.

Allah, Dialah Zat Yang Maha Menentukan. Kita yakin saja kepada-Nya dalam segala hal. Kita yakin bahwa tidak akan pernah ada yang tertukar. Apa yang Allah tetapkan untuk kita, pasti bertemu atau terjadi. Begitu Sebaliknya. Baik rezeki, jodoh, dan semuanya. Apa pun itu, sekali pun keberadaannya tampak jauh dari kita, jika Dia menghendaki, pasti akan datang menghampiri.

Di sini termasuk pula kemuliaan. Kemuliaan bukan berasal dari pujian orang-orang. kemuliaan adalah pemberian dari Allah Ta’ala kepada hamba-hamba yang pantas menerimanya, yaitu mereka yang bertakwa.0rang yang bertakwa adalah orang yang tauhidnya paling bersih. Dia yakin sepenuhnya kepada Allah. Dia patuh dan pasrah kepada-Nya. Semakin yakin kita kepada Allah, kepatuhan dan kepasrahan pun akan terhujam di dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Orang yang bertakwa dan tauhidnya kokoh, dia pasti yakin bahwa tidak ada sesuatu pun yang tertukar dia akan mudah menerima, menjalani, dan menghadapi takdir. Pikirannya positif dan sanggup mengambil hikmah sehingga episode-episode kehidupan berikutnya bisa dijalani dengan baik.

Dari Abu Darda ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda ”Bagi segala sesuatu ada hakikatnya. Dan seorang hamba Allah tidak akan dapat mencapai hakikat iman sehingga dia mengetahui bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset atau terlepas darinya. Dan apa yang terlepas darinya tidak akan dapat menimpanya.” (HR. Ahmad dan Thabrani).

Namun tentu saja, ilmu yakin ini bukan berarti memperbolehkan pengabaian syariat. Rezeki misalnya dia sudah diatur oleh Allah, tetapi kita jangan diam saja.

Kita tetap harus bergerak dan berupaya dengan cara yang baik dan halal. Adapun setelah berusaha ke sana-sini masih belum bertemu, kita harus tetap tenang karena Dia Maha Melihat.

Demikian pula saat di perjalanan, sabuk pengaman dan helm tetap harus dipakai karena Allah Ta’ala sudah menakdirkan keduanya ada. Dan, aturannya pun mengharuskan kita untuk memakainya. Bagaimana kalau tetap celaka juga? Celaka atau tidak adalah takdir dari Allah, itu jelas. Ada hal-hal tertentu yang berada di luar kemampuan kita untuk mengendalikannya. Maka,tugas kita adalah berusaha menyempurnakan syariat sebagai amal saleh kita. Sekali pun nanti takdirnya celaka, amal saleh itu sudah dicatat di sisi-Nya. *

“Bagi segala sesuatu ada hakikatnya Dan seorang hamba Allah tidak akan dapat mencapai hakikat iman sehingga dia mengetahui bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset atau terlepas darinya. Dan apa yang terlepas darinya tidak akan dapat menimpanya.”
(HR. Ahmad dan ath-Thabrani)

Credit:Aagym

Ikhlas dalam bekerja

Semangat dan lkhlas dalam Bekerja

Bukan rahasia lagi kalau orang bekerja adalah untuk mendapatkan gaji. Maka, jangan heran kalau semangat (sebagian) orang yang bekerja sangat tergantung pada besaran gaji. Kalau pendapatan yang diterima besar, semangatnya akan menggebu-gebu. Sebaliknya, apabila pendapatan yang diterima kecil, semangatnya pun jadi lesu.Tentu saja, hal ini tidak berlaku pada orang yang memang sangat memerlukan uang dan belum memperoleh pekerjaan lain dengan gaji yang lebih besar.

Padahal cara berpikir begitu sebetulnya keliru. Pertama, gaji yang rendah yang membuat kita tidak bersemangat akan memengaruhi kualitas hasil kerja. Hasil pekerjaan kurang berkualitas akan membuat atasan kecewa bahkan marah. Ekspresi kekecewaan atasan bisa membuat kita enggan berangkat bekerja dan membolos Dan akhirnya, bukannya naik pangkat atau gaji dinaikkan, tetapi kita malah bisa dipecat. Jadi, pangkalnya yang keliru. Maka, bekerjalah tanpa bergantung pada gaji, InsyaAllah kita akan Iebih sukses dan nyaman dalam bekerja.

Kedua, rezeki dari Allah Ta’ala teramat luas dan tidak hanya melalui gaji. Instansi, perusahaan. lembaga dan lain sebagainya hanya sebagai perantara. Rezeki dari-Nya bisa di manapun, melalui perantara siapapun, dan dalam bentuk apapun. ”Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu (QS.ath-Thalaq [65]:3)

Dengan demikian, semangat dalam bekerja jangan bergantung pada gaji karena rezeki dari Allah tidak hanya lewat gaji. Niatkan yang tulus kepada Allah dengan pekerjaan yang halal dan baik, syari’at yang selalu dipegang, serta terus bekerja secara jujur, disiplin, maksimal dan hasil pekerjaan berkualitas.

Biarkan saja jika atasan tidak mengetahui karena Allah pasti memperhatikan. Abaikan juga atasan yang tidak menghargai karena Allah pasti menghargai orang yang berbuat kebaikan dan kejujuran. Allah pasti akan, memberikan ganjaran lewat jalan yang lain. Allah Maha Perkasa Iagi Maha Mulia, dan kehendak-Nya pasti terjadi sekali pun hasil pekerjaan kita yang berkualitas diklaim oleh orang lain, Jangan sakit hati tetapi tetaplah tersenyum, itu cuma ujian keikhlasan. Hanya sebuah episode yang diatur oleh Allah Ta’ala. Dia melihat dan mengetahui semuanya. Lanjutkan saja bekerja dengan baik dan bagus. Ada waktunya Allah membukakan fakta yang sebenarnya.

Ada istilah ”5 AS” yaitu kerja keras, cerdas, berkualitas, tuntas, dan ikhlas. Kalau tidak tuntas, ibarat keramas yang cuma sebelah. Tidak elok dilihatnya. Upayakan bekerja secara maksimal agar setiap pekerjaan tuntas. Lakukanlah karena Allah semata. Dengan keikhlasan, kita dapat terhindar dari iri dan dengki. Setelah menekuni pekerjaan secara tuntas dan berkualitas, kita sudah tidak perlu iri atau dengki terhadap kawan-kawan sekolah dulu yang hidupnya telah bermobil mewah. Jangankan dengan teman sekelas, antara kita dan saudara-saudara kita dalam satu keluarga pun garis hidupnya pasti berbeda.

Kita jangan protes kalau adik atau kakak kita lebih kaya. Kita jangan pula membanding-bandingkan harta dengan tetangga. Saat lebaran tiba, tidak usah sibuk merental atau Meminjam bermacam kendaraan, perhiasan dan barang barang lainnya. Lebaran bukanlah musim kompetisi kepemilikan di kampung. Perlombaan semacam itu sangat tidak baik. Kita akan sengsara dibuatnya.

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannyula mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Iihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak Iain hanyalah kesenangan yang palsu.” (QS. al-Hadid [57]:20).

Dunia hanyalah kesenangan yang menipu. Namun, wajib diingat kalau hal itu tidak lantas membuat kita mengabaikan maupun mengutuknya. Penting bagi kita untuk terus beramal pada jalur kebaikan dan bermanfaat tanpa harus membangga-banggakan rezeki yang diperoleh, apalagi merekayasa atau membuat pencitraan supaya dihormati. Apa adanya saja. Biasa-biasa saja. Normal-normal saja.

Saudaraku, tiada satu pun kebaikan yang akan luput dari pengawasan dan pengetahuan Allah Ta’ala. Tidak mungkin pahalanya tertukar. Dengan hasil pekerjaan yang tuntas dan berkualitas, kita tidak harus mendapat pujian, penghargaan, penghormatan maupun ucapan terima kasih dari orang Iain. Lurus saja dalam berbuat, cukup berharap dan takut kepada-Nya. Allah yang akan mengangkat derajat kita bukan manusia. *

“Karunia terbaik hanya bisa didapatkan melalui perjuangan dan pengorbanan terbaik pula. Dan, yang terpenting bagi kita bukanlah mendapatkan apa yang kita inginkan, akan tetapi mendapatkan yang terbaik menurut Allah. “

TERSENYUM SAAT MUSIBAH

Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka itu akan dibiarkan mengatakan : “Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak akan diuji lagi ?” (QS. Al-Ankabut [29]: 2)

Bergembiralah saudaraku, bagi orang yang sakit atau yang tertimpa musibah atau ujian, yaitu jika mereka bisa menyikapinya dengan ikhlas, sabar, ridha serta tidak buruk sangka kepada Allah Ta’ala, maka mereka itu akan :

(1). DIAMPUNI DOSA-DOSANYA
“Senantiasa ujian itu akan ditimpakan kepada seorang mukmin & mukminah, baik itu pada dirinya, anaknya serta hartanya, sampai dia pun nanti bertemu Allah tanpa mempunyai kesalahan” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad serta al-Hakim, lihat Shahiihut Targhiib no. 3414)
“Tidaklah seorang pun muslim yang tertimpa rasa letih, penyakit, bingung, sedih, rasa sakit, duka cita, bahkan duri yang mengenai dirinya, melainkan dengan itu Allah akan gugurkan kesalahan-kesalahannya” (HR. Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573)

(2). SEMAKIN DICINTAI ALLAH
“Sesungguhnya besarnya pahala akan sesuai dengan besarnya cobaan, dan sesungguhnya apabila Allah telah mencintai suatu kaum mk Dia pun akan menguji mereka. Oleh karena itu, barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan (Allah), serta barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan (Allah)” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 3407)

(3). DITINGGIKAN DERAJAT
“Sesungguhnya seorang hamba apabila telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala suatu kedudukan baginya, kemudian dia tidak dapat mencapai (kedudukan itu) dengan amal perbuatannya, maka Allah pun akan memberikannya ujian pada tubuh, harta atau anaknya, kemudian dia bersabar atas ujian tersebut, hingga Allah Ta’ala menyampaikannya pd kedudukan yang telah ditetapkan untuknya dari Allah” (HR. Ahmad, Abu Dawud, ath-Thabrani dan Abu Ya’la, lihat Shahiihut Targhiib no. 3409)

(4). MENDAPATKAN SURGA
“Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman : “Wahai anak Adam, apabila kamu bersabar dan ikhlas saat tertimpa musibah, maka Aku tidak akan meridhai bagimu sebuah pahala kecuali Surga” (HR. Ibnu Majah no. 1597, lihat Takhrij Misykaatul Mashaabiih no. 1758)

(5). KESELAMATAN DARI API NERAKA
“Beritakanlah kabar gembira, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Penyakit itu adalah api-Ku yang Aku telah timpakan kepada hamba-Ku yang mukmin di dunia ini, agar dia dapat selamat dari api Neraka pada hari akhir nanti” (HR. Ahmad II/440, Ibnu Majah no. 3470 dan al-Hakim I/345, lihat Silsilah ash-Shahiihah no. 557)

(6). MENDAPATKAN KEBAIKAN
“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan, maka akan ditimpakan musibah (ujian) kepadanya” (HR. Bukhari no. 5645, hadits dari Abu Hurairah)
“Apabila Allah Ta’ala menghendaki kebaikan pada diri hamba-Nya, maka Dia pun akan menyegerakan untuknya suatu ujian di dunia (sebagai pelebur akan dosa-dosanya). Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada diri hamba-Nya, mk Dia akan mengakhirkan ujian lantaran dosa-dosanya, hingga dia pun didatangkan dengan membawa dosa-dosa itu kelak pada hari Kiamat” (HR. At-Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Majah no. 4031, lihat Silsilah ash-Shahiihah no. 1220)

(7, 8, 9). MENDAPATKAN KEBERKAHAN DAN RAHMAT SERTA PETUNJUK
“Mereka itulah (yaitu orang2 yang tertimpa ujian atau musibah) yang akan mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, & mereka itulah orang2 yang mendapat petunjuk” (QS. Al-Baqarah [2]: 157)

(10). MENDAPAT PAHALA TANPA BATAS
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar [39]: 10)
“Manusia yang sehat pada hari Kiamat nanti sangat menginginkan kulitnya agar dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa ujian di dunia” (HR. At-Tirmidzi no. 2402, lihat ash-Shahihah no. 2206)

✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar