Jom Istiqamah Solat Sunat Dhuha

Di antara waktu-waktu yang penuh rahmat, ada satu masa di mana pintu rezeki dibuka seluas-luasnya dan hati dilapangkan dengan ketenangan. Itulah waktu dhuha. Di saat kebanyakan orang sibuk dengan urusan dunia, Allah memanggil hamba-hamba-Nya untuk datang menghadap, walau sekejap, dalam sujud yang sunyi.

Rasulullah SAW bersabda: โ€œPada pagi hari, setiap sendi salah seorang di antara kamu harus bersedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, dan mencukupinya dari semua itu adalah dua rakaat yang dilakukan pada waktu dhuha.โ€ (Riwayat Muslim)

Solat dhuha adalah tanda syukur atas tubuh yang sihat, langkah yang masih mampu berjalan, dan nikmat kehidupan yang kita nikmati tanpa sedar. Dua rakaat yang ringan ini mampu menjadi asbab diampunkan dosa dan diluaskan rezeki, sebagaimana janji Rasulullah SAW bahawa Allah akan mencukupkan keperluan hamba-Nya yang menjaga solat ini.

Istiqamah dalam dhuha bukan bermakna kita tidak akan diuji, tetapi kita akan diberi kekuatan luar biasa untuk menghadapi ujian itu. Setiap kali kita mengangkat takbir di waktu dhuha, kita sedang mengakui bahawa rezeki bukan hanya dari usaha, tetapi dari izin dan rahmat Allah.

Jangan biarkan hari-hari berlalu tanpa mengisi waktu ini dengan sujud dan doa. Walau hanya dua rakaat, ia adalah pelaburan akhirat yang nilainya tidak terbanding. Jika mampu, tambahkan menjadi empat, enam, atau lapan rakaat โ€” kerana semakin banyak kita memberi waktu kepada Allah, semakin banyak Allah membalas dengan kebaikan.

Mulakan hari esok dengan tekad baru. Jadikan dhuha sebagai teman setia setiap pagi. Biar dunia melihat kita sibuk, tetapi hati kita sentiasa punya ruang untuk berdiri di hadapan Allah, meminta dan memuji-Nya. Kerana sesungguhnya, siapa yang menjaga hubungan dengan Allah di waktu lapang, akan dijaga Allah di waktu sempit.

EBOOK RM1 โ€“ PANDUAN SOLAT SUNAT, ZIKIR, DOA, AMALAN, RAMADHAN, UMRAH, MATHURAT & TAUBAT

๐Ÿ’  RM1 untuk 1 Ebook

๐Ÿ’  Ada 26 Ebook, boleh pilih tajuk yang anda mahu

๐Ÿ“ฒ Klik sini untuk order: https://wa.me/60134588163?text=ebookCeramah

Jom Join Telegram Channel Ceramah Ustaz & Ustazah

๐Ÿ“Œ Perkongsian tazkirah harian yang menyentuh hati

๐Ÿ“ฒ Klik sini untuk join: https://t.me/ceramahustazdanustazah

Fitnah โ€“ Api yang Membakar Tanpa Asap

Fitnah itu senjata lama yang tidak pernah berkarat. Ia dicipta oleh hati yang dipenuhi benci, disebarkan oleh mereka yang tidak bijak menilai, dan akhirnya dipercayai oleh mereka yang tidak mahu mencari kebenaran. Inilah racun yang perlahan-lahan merosakkan ukhuwah, mengoyakkan keluarga, menghancurkan persahabatan, bahkan menumbangkan sebuah negara.

Rasulullah SAW bersabda: โ€œCukuplah seseorang itu dikira berdusta apabila dia menceritakan setiap apa yang didengarnya.โ€ (Hadis sahih riwayat Muslim no. 5). Bahaya fitnah bukan hanya pada orang yang mereka-reka cerita, tetapi juga pada mereka yang tergesa-gesa menyebarkannya tanpa menyemak kebenaran.

Firman Allah dalam Surah al-Hujurat ayat 6:

โ€œWahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa suatu berita, maka selidikilah kebenarannya, agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, sehingga kamu menyesal atas perbuatanmu itu.โ€

Fitnah ibarat api yang disulut di tengah padang kering. Sedikit percikan mampu membakar segalanya. Kadang, ia bermula dari satu bisikan kecil, dari satu kata yang diputar belit. Namun apabila sampai kepada telinga yang salah, ia membesar menjadi kebencian yang meluap-luap.

Orang yang beriman tidak memberi ruang kepada fitnah untuk hidup. Mereka menahan lidah daripada menyebarkan keburukan yang tidak pasti, bahkan berusaha memadamnya dengan kata-kata yang benar. Kerana mereka tahu, setiap kata akan ditulis oleh malaikat, dan setiap dusta akan dituntut di hadapan Allah kelak.

Sejarah telah mengajar kita, fitnah mampu menjatuhkan pemimpin yang adil, memecahkan kaum yang bersatu, dan meragut nyawa yang tidak bersalah. Betapa ramai yang dihukum sebelum sempat membela diri, hanya kerana fitnah lebih pantas daripada kebenaran.

Maka, jangan jadi pencipta fitnah, jangan jadi penyambung fitnah, dan jangan jadi pendengar yang pasif. Jadilah pemadam api, bukan penyulutnya. Kerana fitnah itu sekali tersebar, kesannya jarang dapat dipadam sepenuhnya.

EBOOK RM1 โ€“ PANDUAN SOLAT SUNAT, ZIKIR, DOA, AMALAN, RAMADHAN, UMRAH, MATHURAT & TAUBAT

๐Ÿ’  RM1 untuk 1 Ebook

๐Ÿ’  Ada 26 Ebook, boleh pilih tajuk yang anda mahu

๐Ÿ“ฒ Klik sini untuk order: https://wa.me/60134588163?text=ebookCeramah

Jom Join Telegram Channel Ceramah Ustaz & Ustazah

๐Ÿ“Œ Perkongsian tazkirah harian yang menyentuh hati

๐Ÿ“ฒ Klik sini untuk join: https://t.me/ceramahustazdanustazah

Belajar Diam Saat Marah

Marah itu api. Ia membakar dengan cepat, membutakan mata hati, dan menghilangkan pertimbangan waras. Sekali ia menyala, lidah menjadi senjata yang paling tajam. Dalam beberapa saat, kata-kata yang tidak pernah kita niatkan boleh keluar tanpa disedari. Kata-kata itu melukai, dan luka yang ditinggalkan di hati orang lain tidak selalu mudah sembuh.

Rasulullah SAW memberi panduan yang begitu indah. Daripada Abu Hurairah RA, Baginda bersabda: โ€œBukanlah orang kuat itu yang menang dalam perlawanan gusti, tetapi orang kuat itu adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.โ€ (Hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim). Kekuatan sebenar bukan pada otot atau suara yang lantang, tetapi pada hati yang mampu menahan diri daripada melepaskan kemarahan.

Ketika marah, diam adalah penyelamat. Ambil langkah ke belakang, keluar dari tempat yang menyesakkan dada, dan beri ruang kepada hati untuk tenang. Rasulullah SAW mengajarkan, jika kita marah dalam keadaan berdiri, duduklah. Jika masih marah, berbaringlah. Dan jika kemarahan masih terasa membara, berwuduklah kerana marah itu daripada syaitan dan air memadamkan api.

Marah itu fitrah, namun mengawalnya adalah pilihan. Tidak kira marah itu kepada pasangan, adik-beradik, kawan-kawan, atau sesiapa sahaja, diam adalah langkah bijak. Diam memberi masa untuk berfikir, mengelakkan kita daripada mengucapkan sesuatu yang kelak kita sesali. Diam juga membuka ruang untuk doa, kerana saat marah adalah saat kita paling memerlukan bantuan Allah untuk menundukkan ego.

Ada banyak hubungan yang hancur bukan kerana kesalahan besar, tetapi kerana kata-kata yang keluar di saat marah. Sebuah keluarga boleh retak, persahabatan boleh musnah, dan hati yang dulu penuh kasih boleh bertukar menjadi dingin hanya kerana lidah yang tidak dijaga. Maka, jadikan diam sebagai benteng, dan sabar sebagai senjata.

Marah akan reda, tetapi kata-kata akan kekal. Menahan marah bukan tanda kita kalah, tetapi tanda kita matang. Setiap kali kita berjaya menahan lidah daripada melukai, kita sedang melindungi hati orang lain dan menjaga kehormatan diri sendiri di sisi Allah.

EBOOK RM1 โ€“ PANDUAN SOLAT SUNAT, ZIKIR, DOA, AMALAN, RAMADHAN, UMRAH, MATHURAT & TAUBAT

Jom Join Telegram Channel Ceramah Ustaz & Ustazah

๐Ÿ“Œ Perkongsian tazkirah harian yang menyentuh hati

๐Ÿ“ฒ Klik sini untuk join: https://t.me/ceramahustazdanustazah

cara menggunakan diam sebagai senjata dalam percakapan, dirancang agar mudah dibaca dan relate dengan kondisi zaman sekarang.

  1. Berhenti Sejenak Setelah Orang Lain Selesai Bicara
    Dalam dunia yang serba cepat dan penuh dengan notifikasi, kita sering terburu-buru ingin langsung merespons. Cobalah untuk tidak langsung mengisi kesunyian yang terbentuk setelah seseorang selesai berbicara. Diam selama 2-3 detik ini menunjukkan bahwa kamu benar-benar memproses dan menghargai apa yang baru saja dikatakan, bukan sekadar menunggu giliran untuk bicara. Hal ini membuat lawan bicara merasa didengarkan secara lebih mendalam.
  2. Gunakan untuk Membuat Poin Kamu Lebih Berdampak
    Setelah kamu menyampaikan sebuah poin atau argumen yang penting, berhentilah. Jangan terburu-buru menjelaskannya lebih lanjut atau menambahkan hal lain. Diam yang disengaja setelah pernyataan kuat memberi ruang bagi audiens untuk mencerna maknanya. Dalam negosiasi atau presentasi, teknik ini membuat perkataanmu terasa lebih berbobot dan penuh perhitungan.
  3. Jawab Pertanyaan dengan Diam Sebelum Berbicara
    Ketika mendapat pertanyaan yang menantang, provokatif, atau menjebak, jangan panik dan langsung menjawab. Tatap mata si penanya, dan diamlah sejenak. Diam di sini bukan tanda kebingungan, melainkan simbol bahwa kamu tenang dan sedang memikirkan respons terbaik. Di era media sosial di mana setiap ucapan bisa direkam dan diviralkan, diam sejenak bisa menyelamatkanmu dari mengatakan hal yang tidak tepat.
  4. Jadikan Senjata untuk Mendeteksi Keaslian
    Orang sering merasa tidak nyaman dengan keheningan dan akan berusaha mengisinya. Kamu bisa menggunakan ini untuk keuntunganmu. Dalam situasi seperti wawancara atau percakapan mendalam, setelah kamu diam, biarkan lawan bicara yang berbicara lebih dulu. Seringkali, mereka akan mengungkapkan informasi lebih banyak, mengklarifikasi perkataan, atau bahkan menunjukkan niatan aslinya hanya untuk memecahkan kesunyian.
  5. Kontrol Emosi dan Reaksimu
    Diam adalah bentuk kontrol diri yang paling elegan. Ketimatika menghadapi kritik pedas atau komentar menjengkelkan di kolom komentar online maupun offline, reaksi instan biasanya hanya akan memperkeruh suasana. Dengan memilih untuk tidak langsung bereaksi dan diam (tidak merespons atau menunda respons), kamu mengambil alih kendali atas emosi dan situasi. Kamu terlihat lebih dewasa dan tidak mudah diprovokasi.
  6. Tunjukkan Ketidaksetujuan tanpa Perlu Berkata-Kata
    Terkadang, mengungkapkan ketidaksetujuan dengan kata-kata justru mengurangi nilainya. Ekspresi wajah yang tenang disertai diam yang singkat bisa mengirimkan sinyal yang sangat kuat bahwa kamu tidak setuju atau tidak terkesan dengan suatu pernyataan. Ini jauh lebih powerful daripada berdebat karena membuat pihak lain bertanya-tanya dan mempertimbangkan ulang perkataannya sendiri.
  7. Beri Ruang untuk Refleksi dan Introspeksi
    Dalam percakapan yang emosional atau berat, gunakan diam sebagai jeda untuk bernapas dan merenung. Katakan, “Boleh kita berhenti sejenak? Aku butuh waktu untuk memikirkan ini.” Ini menunjukkan bahwa kamu menganggap serius percakapan tersebut dan tidak ingin mengatakan sesuatu yang akan disesali. Di zaman yang penuh dengan hustle culture, melambatkan percakapan justru adalah sebuah kekuatan.
  8. Tingkatkan Daya Ingat dan Perhatian
    Saat kamu tidak sibuk memikirkan respons, kamu bisa benar-benar fokus mendengarkan. Otakmu memiliki lebih banyak sumber daya untuk mencerna informasi, mengingat detail, dan menangkap nuansa dalam percakapan. Ini membuatmu menjadi komunikator yang lebih efektif karena respons yang kamu berikan nantinya akan lebih relevan dan tajam.

Inti dari menggunakan diam sebagai senjata adalah tentang kesadaran penuh. Itu adalah pengingat bahwa dalam dunia yang begitu bising, kekuatan seringkali datang dari mereka yang mampu untuk tidak mengatakan apa-apa, dan justru mendapatkan lebih banyak dengan melakukannya.

Sumber FB : Muhammad Salim Akhbar