Banyak orang sibuk menghitung untung-rugi di akhir tahun, seolah laba menjadi penentu nilai hidup. Padahal, sebagaimana ditunjukkan oleh sosok seperti Ir. Sholah Atiyah, ukuran kesuksesan sejati tak pernah diukur dari seberapa banyak yang bisa kita genggam, melainkan seberapa dalam kita menggenggam kepercayaan kepada Allah dalam setiap prosesnya. Ia bukan presiden, bukan miliarder yang memenuhi halaman berita, namun ketika wafat, manusia berbondong-bondong menghantarkan jenazahnya karena semasa hidup, ia tidak hanya membangun bangunan, tapi juga membangun hati.

Sholah Atiyah dikenal bukan karena kekayaannya, tetapi karena caranya memandang harta sebagai amanah, bukan prestasi. Ia menanamkan satu prinsip sederhana “Rezeki bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa sering Allah dilibatkan dalam setiap keputusan kita.” Prinsip itu menjadikannya bukan hanya seorang insinyur yang sukses, tapi seorang hamba yang paham siapa Pemilik sejati dari setiap keberhasilan. Ia tidak menganggap donasi sebagai pengeluaran, melainkan bentuk kerja sama dengan Tuhan dalam menjalankan urusan dunia.

Kita hidup di zaman di mana banyak orang ingin “bermitra” dengan investor, tapi lupa bahwa mitra paling berpengaruh justru adalah Allah sendiri. Dalam Al-Qur’an (QS. Al-Hadid: 7), Allah berfirman: “Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan infakkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.” Ayat itu bukan sekadar ajakan memberi, tapi pengingat bahwa apa pun yang kita miliki hanyalah titipan yang sewaktu-waktu bisa diambil. Maka siapa yang menggunakan hartanya untuk kebaikan, sejatinya sedang berbisnis langsung dengan Sang Pemberi Rezeki.

Sementara banyak orang berdoa agar diberi kelimpahan, Sholah Atiyah justru berdoa agar tetap bisa berbagi meski dalam kekurangan. Ia percaya, keberkahan tidak datang dari angka, melainkan dari arah yang tak terlihat dari tangan yang memberi dengan ikhlas, dari doa orang yang terbantu, dan dari hati yang tenang karena tahu rezeki tak akan salah alamat. Itulah sebabnya, ketika ajal menjemputnya, manusia datang bukan karena popularitasnya, tapi karena jejak keberkahan yang ditinggalkannya.

Awal tahun nanti, mungkin kita tak perlu sibuk menulis target finansial tanpa makna. Cobalah sambut dengan satu niat sederhana: melibatkan Allah dalam setiap urusan, termasuk dalam mengatur keuangan. Sebab rezeki bukan hanya soal berapa yang masuk ke rekening, tapi berapa banyak yang keluar membawa manfaat. Sholah Atiyah telah memberi contoh bahwa kesuksesan bukan soal berapa yang bisa kita hitung, tapi berapa yang bisa kita titipkan kepada-Nya dengan yakin, bahwa dalam setiap rupiah yang digunakan dengan iman, di situ ada bagian dari kemitraan kita dengan Tuhan.

ceritabisnis

Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.

UTM Open Day